- Diposting oleh : Salafy Tasikmalaya
- pada tanggal : Januari 24, 2026
Persiapan Bekal di Jalan
Sebelum Kata "Selamat Jalan"
Di tengah maraknya perintah Allah Ta'ala yang disepelekan, dan larangan-Nya yang tidak lagi dihiraukan. Allah Ta'ala selalu Rahmah (sayang) kepada seluruh hamba-Nya, selalu menerima kata maaf untuk mereka yang mau bertaubat. Tapi sedikit sekali manusia yang mau mengingat akan karunia-Nya yang melimpah ruah tak terhingga jumlahnya.
Angin masih jua berhembus, memasuki sela ruang yang pekat akan kelamnya dosa dan maksiat, hanya demi mereka dapat bernafas. Namun mereka tetap hanyut terbuai dengan hiburan syaitan dan bala tentaranya. Sehingga yang haram dirasa lumrah, begitupun yang halal terasa hambar.
Mirisnya, mengingkari kemungkaran disebut "close minded" (berpikiran sempit), dan membiarkan kemaksiatan dianggap sebagai "toleransi yang wajar". Allohul Musta'an.
Fenomena yang begitu menyakitkan. Mengklaim dirinya sebagai orang yang beragama, tetapi tidak ada sikap ketika sesuatu yang dimilikinya dijatuhkan. Nabi ﷺ dan Sahabatnya, serta seluruh pengikutnya berjuang keras hingga titik darah penghabisan demi kalimat izzah “لا اله الا الله”, namun mereka yang datang belakangan ini, begitu mudah melabelkan kalimat tersebut tanpa makna.
Mengaku beragama Islam, mengaku beriman, tetapi enggan mengerjakan shalat. Padahal nikmat Allah Ta'ala selalu bersamanya. Tempat ibadah nyaman (tak perlu shalat di tengah terik matahari), air bersih melimpah (tak perlu jalan ratusan meter untuk bersuci).
Bagaimana dengan dzikir dan doa yang tak kunjung membasahi bibir?
Berapa waktu shalat yang luput hanya karena mager?
Yang lebih mirisnya lagi adalah mudah merasa puas, merasa cukup, padahal ini merupakan permainan inti syaitan. Seperti firman Allah Ta'ala:
Ada seorang salaf yang mengatakan:
والسفهاء يستكبرون بالقليل
Salaf kita dahulu mereka shalat malam, meriwayatkan hadits, mendakwahkan Islam dan masih banyak kebaikan yang mereka lakukan. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang senang, bangga, sombong apalagi sampai menyebut-nyebut kebaikannya kepada orang lain.
Justru yang mereka rasakan adalah khawatir dan ketakutan, kalau ada kesalahan dan dosa yang menghalangi diterimanya ibadah yang mereka kerjakan. Imam Fadholah bin ‘Ubaid rahimahullah mengatakan:
“Andaikan aku tahu bahwa Allah Ta'ala menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada diberi harta dunia."
Sisihkan waktu ditengah kesibukan kita untuk berdoa, memohon, bermunajat, mengadu kepada Allah Ta'ala. Karena hanya disitulah ketenangan yang sejati dapat diraih. Hanya milik Allah-lah keselamatan yang hakiki.